NTB PROV

Jadi Aktualisasi Gerakan Umat

NTB PROV

Jika dilihat dari prosesnya, Islamic Center (IC) sudah berhasil menjadi aktualisasi keterlibatan umat dalam proses pembangunannya. Sekarang, keterlibatan umat adalah salah satu energi yang dibutuhkan untuk melanjutkan pengembangannya. Gerakan umat akan memberikan suntikan tersendiri yang diperlukan di tengah keterbatasan kemampuan pemerintah dan pemerintah daerah dalam mengembangkan IC sebagai pusat peradaban, sesuai nilai-nilai kearifan lokal di NTB. 

Demikian disampaikan Plt. Kepala Diskominfotik NTB,  I Gede Putu Aryadi, S.Sos,MH dalam FGD tersebut. Gede menegaskan, pengembangan IC memang harus menjadi gerakan umat. Ke depannya, pengelola IC harus memiliki inovasi yang lebih berfokus pada partisipasi semua pihak. ‘’Aktivitas di situ difasilitasi pembangunannya oleh pemerintah,’’ katanya. 

Menurutnya, sejarah pembangunan Islamic Center yang dibangun sejak kepemimpinan Dr. TGH. M. Zainul Majdi memang mencerminkan adanya semangat keterlibatan umat. 

Misalnya saja, dari aspek dana pembangunan fisiknya. Dana ini dulunya berasal dari dua sumber. Sumber pertama adalah dari alokasi anggaran pemerintah daerah. Sumber lainnya adalah dana zakat. 

Di tahap pertama pembangunannya, Pemprov NTB mengalokasikan anggaran sekitar Rp200 miliar untuk pembangunan Islamic Center. Dana itu dialokasikan secara bertahap. Sementara, dari zakat, berhasil terkumpul dana sekitar Rp8 miliar. “Setahun sekitar Rp2 sampai Rp3 miliar (dana zakat). Kita laporkan secara berkala berapa zakat dari pegawai dan dari masyarakat,’’ kenang Gede.

Gede menilai, upaya melibatkan umat dalam pembangunan dan tata kelola memang dibutuhkan. Sebab, pemerintah memiliki keterbatasan sumber daya dan keterbatasan kewenangan. ‘’Memang dari sisi pemerintah ada keterbatasan. Pemerintah (hanya) menyiapkan regulasi, mendorong dan selanjutnya memfasilitasi,’’ katanya.

Ia menambahkan, jika ditilik dari sisi urusan dan kewenangan sesuai rekomendasi Mendagri, sebagian aspek kewenangan dalam pengembangan Islamic Center memang merupakan urusan pemerintah pusat. Sejauh ini, anggaran yang dialokasikan untuk program non fisik seperti program keagamaan atau lainnya di Islamic Center memang masih minim. 

Tunjung, salah seorang peserta diskusi dari Bappeda NTB mengatakan, IC saat ini telah menjadi ikon wisata halal. Namun, dari catatan pihaknya di Bappeda NTB, anggaran untuk IC saat ini hanya dialokasikan sebesar Rp6 miliar. Itu pun program peningkatan pengembangan pengelolaan aset daerah.

‘’Belum terlihat program-program yang mengarah pada kaitannya dengan program keagamaannya, mengarah pada spiritual segala macammya. Ini lebih besar program peningkatan aset untuk sarana itu saja, itu pun untuk fisik,’’ ujar Tunjung. 

Program lainnya, kata Tunjung, belum begitu banyak. Kondisi itulah menjadi masukan dan usulan kepada Bappeda NTB yang nantinya bisa menjadi kebijakan. Apalagi IC masuk ke misi NTB Gemilang yaitu NTB Aman dan Berkah. ‘’Nanti menjadi catatan kami di Bappeda, jadi landasan kebijakan,’’ ujarnya.

Pusat Bisnis

Persoalan pembiayaan untuk pengembangan Islamic Center (IC) harus dicari jalan keluarnya. Diperlukan pusat bisnis sebagai salah satu jalan keluar menyelesaikan persoalan pembiayaan yang ada di IC.

Hal itu disampaikan M. Syamsul Rijal dari UIN Mataram. Menurutnya, pelatihan bahasa untuk mendukung program pengiriman mahasiswa ke luar negeri, bisa ditangani di IC. ‘’Pelatihan bahasa itu di  bawah UPT, UPT nanti membuat program itu, ditunjuk pejabatnya siapa yang mengelola itu. Kalau hitung-hitungan secara kalkulator, pendidikan bahasa minimal tiga bulan, itu berapa biayanya,’’ katanya. 

Menurutnya, bisa juga dibuat Baitul Maal wa Tamwil (BMT) untuk membantu operasional IC. Diperlukan juga adanya perpustakaan di IC, terlebih lagi perpustakaan sebagai jantung peradaban. ‘’Karena peradaban ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan sehingga anak kecil sampai mahasiswa bisa ke situ. Mestinya perpustakaan itu harus ada di IC,’’ ujarnya. 

Selain itu, bisa juga dibuat pusat pengkaderan Dai, Taman Pendidikan Alquran (TPA), adanya pusat untuk menghafal Alquran dari tingkat SD, SMP, dan SMA. ‘’Semua itu harus ter-cover kalau IC mau kita orbitkan sebagai pusat peradaban,’’ katanya.

Ekspektasi Tinggi

Meski baru tiga tahun resmi dipergunakan, IC memang telah melalui banyak dinamika. Di usia yang sangat muda itu, ekspektasi tinggi muncul dari masyarakat. 

Abdul Aziz  dari Bidang Keagamaan Biro Kesra, mengatakan, sejauh ini, kebanyakan aktivitas di IC memang masih bersifat kegiatan ibadah. Pembiayaan kegiatan didanai dari infaq. Meski demikian, pihaknya tetap bisa mendatangkan orang yang mengisi kajian subuh, kajian bakda magrib, dan kajian bakda salat Jumat.

‘’Apa yang kita berikan  kepada mereka layak, walaupun dana yang kami habiskan dalam satu bulan Rp 60 juta untuk menggaji rekan-rekan kita, mulai dari adzan sampai mengisi kajian,’’ katanya. 

Pengembangan IC sebagai pusat peradaban, menurutnya sudah menjadi konsep awal pembangunannya. Namun sampai saat ini belum sepenuhnya bisa dilaksanakan. Meskipun sudah disiapkan tempat untuk kajian-kajian.

‘’Yang baru berlangsung saat ini, kajian tentang tafsir. Kita inginkan IC setiap saat terus ada kegiatan di sana, di samping kegiatan hari besar. Salah satu mendatangkan para imam besar dari Timur Tengah. Di UPT juga ada kasi bisnis. Muda-mudahan bisa dikembangkan pusat bisnis di IC,’’ kata Abdul Aziz. 

Manfaatkan Daya Tarik 

Kabid Persandian dan Keamanan Informasi Diskominfotik, Mahmud AKS, M.Si mengatakan, IC memiliki daya tarik pada kemegahannya. “Kita harus manfaatkan daya tarik ini, dengan meningkatkan kualitas isi dari IC,” katanya. 

Ia mengusulkan, harus ada pemikir sebagai bagian dari pengelola UPT Islamic Center. Harus ada kegiatan di IC yang bisa menarik umat. ‘’UPT harus ada pemikir yang bisa membuat kegiatan yang menarik umat,’’ katanya.

Dr. Lukman, dari Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) mengatakan, diperlukan pemetaan terkait potensi IC sebagai sentra wisata halal. Ia melihat, strategi dan kriteria untuk tata kelola wisata halal juga perlu dirumuskan bersama. Pihaknya di Ummat juga ingin membantu pemerintah dalam pengembangan wisata halal ini. 

Selain berkaitan dengan sarana dan prasarana, perubahan pola pikir atau mindset masyarakat perlu dilakukan. “IC dan tokoh masyarakat memberikan ruang untuk nilai-nilai yang baik. Jika diberikan dorongan perguruan tinggi dan tokoh masyarakat berkolaborasi dalam pengembangan IC, insya Allah bagus,” katanya. 


NTB PROV
Diskominfotik NTB © 2019 All rights reserved.

Membangun Nusa Tenggara Barat Gemilang

by Dinas KOMINFOTIK NTB

Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat: Jalan Pejanggik No. 12
Mataram, Nusa Tenggara Barat - 83122

Monday - Friday: 07:30 - 16:00 Saturday, Sunday: Closed
0370-622373