TRADISI "BAU NYALE" BERAWAL DARI PENGORBANAN PUTRI MANDALIKA

Administrator | Selasa, 09 Desember 2014 - 14:34:11 WIB | dibaca: 4865 pembaca

Setiap tahun masyarakat sasak, khususnya di Lombok Tengah selalu melaksanakan tradisi “bau Nyali”, sebuah tradisi yang sudah mengakar di kalangan masyarakat, dan telah dilaksanakan secara turun temurun sebagai pesta tahunan.

Tradisi Bau Nyali berawal dari kisah legenda Putri Mandalika, seorang Putri Raja Tanjung Beru yang sangat cantik nan Jelita. Dikisahkan, Putri Mandalika mulai tumbuh dan menginjak dewasa. Seiring dengan perjalan hidupnya, kecantikan Putri Mandalika-pun menyebar hampir keseluruh pelosok negeri. Kecantikan dan keharuman budi pekerti putri mandalika selalu menjadi buah bibir rakyat di seantero negeri. Karena kecantikan dan keharuman budi pekertinya itulah sehingga para pangeran dan putra mahkota negeri tetangga semuanya ingin mempersunting putri mandalika. Para Pangeran dinegeri tetangga saling berembut ingin mempersunting sang putri. Tak satupun diantara para raja yang mau mengalah, bahkan rela mati demi mendapatkan Sang Putri. Para Pangeran bahkan telah siap untuk melakukan pertumpahan darah atau turun ke medan laga memenangkan sayembara demi mendapatkan Sang Putri.

Namun dari seluruh Pangeran yang berniat mempersunting Sang Putri Raja yang cantik dan termashur tersebut, semuanya diterima secara santun dan diperlakukan terhormat, tetapi tak satupun yang diberi harapan atau jawaban pasti.

Waktupun terus berlalu, Sang putri semakin dewasa dan bertambah usia, Raja Beru-pun khawatir akan penerus tahtanya, karena putri Mandalika adalah penerus tunggal kerajaan tersebut, sehingga didesak untuk segera memiliki pendamping dan melahirkan keturunan yang kelak akan melanjutkan tahta kerajaan.

Oleh Karena itu Raja kemudian meminta Putri Mandalika dapat segera menjatuhkan pilihan kepada salah satu dari seluruh pangeran yang sudah melamarnya. Hal ini demi kelangsungan tata kerjaan dan keamanan negeri, ujar raja kepada putrinya. Namun sang Putri memohon kepada sang Ayah agar diberi waktu, dan akan memberi jawaban pada suatu hari yang tepat untuk mengumunkan pilihannya. Sang Putri tak ingin terjadi pertumpahan darah, sebab bila terjadi pertumpahan darah akan sangat merugikan semua pihak dan akan menyengsarakan rakyat dan seluruh negerinya. Jika memilih satu dari pengeran itu, tentu akan terjadi keributan dan pertumpahan darah.

Akhirnya tibalah saatnya Sang Putri harus mengumpunkan pilihan dihadapan pejabat dan seluruh rakyatnya. Pada suatu malam gelap bertempat di Bagian Selatan disekitar pantai Seger Kute Lombok Tengah, Raja Beru mengadakan Pesta upacara untuk menyambut Putri Mandalika akan mengumumkan pilihan pendamping hidupnya. Pesta begitu meriah, para tamu dan rakyat-pun sudah tak sabar menunggu pilihan Sang Putri.

Tibalah saatnya sang putri mengumumkan pilihannya, tetapi ternyata didepan rakyatnya sang putri berkata agar seluruh negerinya menjaga kedamaian, meniadakan pertumpahan darah serta meningkatkan silaturahmi dan keharmonisan. Demi kedamaian, aku rela berkorban untuk rakyat dan seluruh negeri, ucap Sang Putri seraya langsung menceburkan diri ke laut.

Menyaksikan momen yang tak pernah dibayangkan tersebut, semua pangeran yang hadirin pun menjadi panik dan berusaha mencari Sang putri di tengah kegelapan malam yang terbawa oleh derasnya gelombang lautan. Setelah lama dicari, sang Putri tidak ditemukan, yang didapat hanyalah cacing-cacing laut, yang memancarkan kemilauan yang sangat indah. Cacing laut ini hanya muncul setahun sekali pada saat tertentu saja, dan sejak saat itulah dirayakan dirayakan pesta rakyat bau nyale setiap tahun, bertempat di pantai kute lombok tengah.

Dari kisah legenda tersebut, pelajaran penting yang dapat dipetik adalah perenungan terhadap legenda putri nyale yang dengan rela mengorbankan hidupnya demi terciptanya sebuah kedamaian.

Kerelaan putri nyale mengorbankan hidupnya supaya tidak terjadi konflik ini menggambarkan keluhuran kepribadian masyarakat NTB khususnya di Lombok, yang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, cinta akan kedamaian, serta tulus memberikan dan mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah persatuan.

Oleh karena itu, masyarakat NTB masa kini dapat memetik hikmah hikmah dari legenda tersebut serta tidak mudah terpengaruh dengan provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. (K & PDE Setda Prov. NTB).