Program Unggulan

Program Absano, Penerang bagi si Buta Aksara

Administrator | Rabu, 10 Desember 2014 - 07:28:16 WIB | dibaca: 3668 pembaca

’Senang sekali belajar membaca dan berusaha. Kami sangat terbantu. Saya berterimakasih kepada Dikpora NTB dan meminta ke pak Gubernur, agar program ini dilanjutkan, agar warga yang lain juga ikut merasakan apa yang saya rasakan sekarang’’
Nuriah (50 tahun) asal Berembeng, Desa Kuripan Timur Lombok Barat

Jumlah masyarakat yang masih tergolong buta aksara, karena tidak pernah mengenyam bangku pendidikan merupakan persoalan besar yang menjadi salah satu penyebab Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di NTB berada di urutan buncit. Melalui program Absano (Angka Buta Aksara menuju Nol), Pemprov NTB menjadi penerang bagi masyarakat yang tidak mengenal aksara, khususnya aksara latin. Berikut ulasannya.

MESKIPUN masih terbata-bata, Nuriah (50 tahun), warga Dusun Berembeng Desa Kuripan Timur, Lombok Barat, sangat bersyukut, kini sudah bisa mengenal huruf-huruf latin. Tulisan-tulisan spanduk, surat serta tulisan merek produk pabrikan sudah bisa dibaca. Kemampuan yang baru dimiliki setelah memiliki cucu ini, menjadi berkah tersendiri, duniapun dirasakan lebih benderang. Bentuk-bentuk huruf dan angka yang semula sebagai simbol-simbol aneh, kini sudah bisa dikenali sebagai huruf dan angka.

bersyukur dengan program Absano yang telah membuatnya menjadi bisa membaca. Sebelum mengikuti pembelajaran KF, dia sama sekali buta huruf, karena tidak sekolah sejak kecil. Umumnya, perempuan yang lahir di kampung, meskipun dilahirkan sesudah beberapa tahun Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, tidak banyak yang bisa mengakses pendidikan formal.

Dengan program Absano melalui kekasaraan fungsional (KF) yang dimassivkan Pemprov NTB dibawah kepemimpinan Gubernur NTB Dr TGH M Zainul Majdi, barulah Nuriah dan puluhan ribu perempuan NTB lainnya, baru dikenalkan huruf dan angka oleh pemerintah melalui 32 kali pertemuan pembelajaran. Nuriah tercatat sebagai Warga Belajar (WB) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Aksara. Program Absano ini mulai dicanangkan Pemprov NTB sejak 2009. "Saat kecil saya dilarang sekolah, jadi tidak bisa baca. Sekarang Alhamdulillah, saya sudah bisa membaca. Walau saya membaca dengan terbata-bata, tapi saya senang sekali," tutur Nuriah.

Tidak hanya diberikan kesempatan belajar membaca, Nuriah dan rekan-rekannya sesama warga yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan, juga diberikan kesempatan berusaha melalui program lanjutan KF, yakni Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Program ini bak angin segar bagi Nuriah dan rekan-rekannya. Peserta KUM yang dianggarkan tahun anggaran 2012 ini juga dibimbing PKBM Tunas Aksara, mulai dari pelatihan, pembinaan, dan prakteknya. Modal awal yang diberikan kepada Nuriah Rp 190 ribu untuk menjalankan usaha penteasan ayam. Dari modal tersebut, Nuriah dkk, membeli 100 butir telur ayam Arab seharga Rp 150 ribu. Proses penetasan dilakukan selama 21 hari menggunakan mesin penetas.

Satu anak ayam ditetaskan, dijual Rp 5 ribu per ekor ke warga lain sesama wajib belajar KUM yang memilih usaha penggemukan ayam. Usaha ini menjanjikan keuntungan yang cukup menggiurkan, jika 50 persen dari 100 butir telur ayam menetas, maka bisa total penjualan yang bisa diterima mencapai Rp 250 ribu. ‘’Kami kan masih belajar, karena menjadi WB KUM, jadi 50 persen yang menetas itu kami sudah bersyukur. Kalau sudah lama ya bisa 90-100 persen menetas kan kita bisa untung banyak,’’ terangnya.

Penuturan senada juga diungkapkan, Kariah (53), salah seorang wajib belajar KF dan KUM di PKBM Tunas Aksara. Dari usaha yang dirintas, telah membantu membiayai sekolah anaknya. Dan menjadi andalan agar dapur terus mengepul, paska ditinggal sang suami yang meninggal dunia beberapa tahun silam. Sebelum memulai usaha, Kariah bekerja serabutan, sebagai buruh tani, tukang cuci, maupun mengumpulkan rumput ternak. ‘’Saya senang sekali belajar di sini, saya bisa membaca dan belajar berusaha. Karena kami sangat terbantu. Saya berterimakasih kepada Dikpora NTB. Saya minta kepada pak Gubernur, agar program ini dilanjutkan, agar warga yang lain juga ikut merasakan apa yang saya rasakan sekarang,’’ pintanya.

Sekretaris PKBM Tunas Aksara Lalu Burhanuddin menjelaskan, 2011 lalu, pihaknya telah membelajarkan seribu orang wajib belajar dalam dua tahapan. Tahap I dibelajarkan sebanyak 50 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang per kelompok, seluruhnya berada di Desa Kuripan Utara. Tahap II dibelajarkan 40 kelompok yang berlokasi di Desa Kuripan Timur. Di kedua desa ini kemudian ada program lanjutan KUM yang diberikan kepada 20 kelompok. Dana KUM yang diterima sebesar Rp 92 juta dengan masing-masing kelompok Rp 4 juta.

PKBM ini juga sudah menyediakan satu1 mesin penetasan telur untuk kelompok yang berusaha penetasan telur ayam ataupun bebek.

‘’Kami all out untuk memberikan pelatihan dan mengawal usaha para WB," ungkapnya.

Diakui, program Absano melalui pembelajaran KF dan KUM ini, sangat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Dari hasil usaha yang dijalani, peserta WB mendapat tambahan penghasilan, sehingga mereka tidak terlalu tergantung dengan penghasilan suami.  Karena sebagian besar peserta WB KF dan KUM yang dibelajarkan adalah kaum perempuan.

Usaha keras berbagai pihak di PKBM Tunas Aksara ini memiliki segudang prestasi. Seperti menjadi Juara I Lomba Keberaksaan Nasional dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Depdinas tahun 2011, juara harapan I PKBM Berprestasi Nasional dari Kemdikbud tahun 2012 pada Hari Aksara International (HAI) ke-47 dan Juara 2 Tutor Pendidikan Keaksaraan pada Jambore 1.000 PTK PNF tahun 2012 di Surabaya.

Keberhasilan program Absano ini juga dituturkan Fin Rosmasilawati, Ketua Lembaga Pendidikan Sosial Masyarakat (LPSM) di Dusun Timbak Desa Kesik Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. Dijelaskan, pelaksanaan pembelajaran KF berjalan cukup baik. Materi yang diajarkan, sesuai dengan petunjuk yang ada, seperti nama buah, sayuran, binatang, hari, minggu, bulan, tahun dan alat-alat transportasi. Di sini ada sebanyak 540 orang WB yang tergabung dalam 27 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 20 orang WB yang dibelajarkan sore dan malam hari.

Pesertanya didominasi dari kaum perempuan sebanyak 465 orang dan sisanya 75 orang laki-laki. Tahun ini, LPSM ini menerima anggaran pembelajaran dari APBN senilai Rp 135 juta. ‘’Hampir 80 persen peserta yang mengikuti KF tingkat dasar sudah melek huruf,’’ bebernya.

Semangat peserta mengikuti program KF ini juga tinggi, bahkan hampir 100 persen. Usia lanjut para peserta tidak menyurutkan niat untuk tetap belajar. Sehingga, dengan ketekunan belajar, warga penyandang buta huruf ini terampil berhitung. Sedangkan kemampuan menulis dan membaca masih harus terus dilatih. Kemampuan mengingat yang tidak lagi optimal, terkait usia yang sudah lanjut, menjadi salah satu kendala, seperti pengakuan, Jamilah, Tutor kelompok KF asal Sambelia, Lotim.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB Drs HL Syafi’i menerangkan bahwa, program Absano merupakan solusi atas banyaknya masyarakat NTB yang masih buta aksara, sehingga berpengaruh terhadap IPM NTB. Program Absano ini diaplikasikan melalui pembelajaran KF yang dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB tahun 2009-2013. Sehingga, pada tahun depan, seluruh masyarakat yang masih buta aksara sudah dibelajarkan melalui program KF. ‘’Absano bukan menjadi tujuan akhir, yang terpenting adalah kualitas hidup masyarakat setelah mereka bisa membaca, menulis dan berhitung,’’ tandas mantan Kepala Dikpora Kota Mataram ini.

Program pembelajaran KF dilakukan, lanjutnya, menggunakan sistim 32 kali pertemuan. Masing-masing peserta dialokasikan anggaran Rp 250 ribu. Pemerintah juga menyediakan dana untuk honor tutor, pengadaan modul dan keperluan lainnya. Proses pembelajaran WB melibatkan PKBM, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), PKK, Perguruan Tinggi, dan pihak-pihak lainnya.

Sebelum memulai program ini, Pemprov NTB terlebih dahulu melakukan pendataan tahun 2009, sehingga diperoleh data by name dan by address warga yang masih buta aksara. Bahkan, juga disertai foto yang bersangkutan. Ditargetkan, 2010/2011 angka melek huruf bisa menembus angka 92,10 persen, tahun 2011/2012 ditargetkan 96,70 persen, dan tahun 2012/2013 ditergetkan 100 persen.

Jumlah masyarakat yang buta aksara tahun 2009 mencapai 417.277 orang, jumlah warga yang telah dibelajarkan hanya 108.901 orang. Pada tahun berikutnya, Pemprov membelajarkan 83.558 orang. Sedangkan tahun 2011 dibelajarkan 163.008 orang.

Pada tahun 2011, juga tercatat 4 kabupaten/kota sudah tuntas menjalankan program buta aksara ini, yakni Kota Mataram, Sumbawa Barat, Dompu dan Kota Bima. Sisanya 6 kabupaten/kota masih buta aksara, antara lain Lombok Barat 38.809 orang, Lombok Tengah 28.761 orang, dan Lombok Timur 28.570 orang WB. Selanjutnya, Sumbawa 21.056 orang WB, Bima 29.833 orang WB dan Lombok Utara 16,179 orang.

Tahun ini, telah dibelajarkan 25.920 orang, yakni 12.177 orang dari Lombok Tengah, dan 13.743 orang dari Lombok Timur dengan dana Rp 6,4 miliar. Program ini, masih akan terus dilanjutkan, rencananya, akan dibelajarkan 35.890 orang, yakni 22.729 orang dari Lombok Timur dan 13.161 orang Lombok Tengah, dengan total dana Rp 8,9 miliar.

Sementara, untuk program KUM, Pemprov memperoleh alokasi anggaran dari APBN senilai Rp 5 miliar dengan sasaran 11 ribu orang. Jumlah peserta KUM yang belum bisa dibelajarkan masih cukup banyak, yakni mencapai 360.213 orang. Penganggaran KUM ini akan dilakukan bertahap dengan sumber dana dari APBD dan APBN dengan jumlah kebutuhan mencapai 165 miliar, yakni dengan asumsi, satu orang membutuhkan biaya Rp 460 ribu. ‘’ Kami berharap agar pelaksanaan program Absano ini berjalan sukses hingga tahun 2013 mendatang. Baik itu pembelajaran KF dan KUM bagi WB di NTB. Tentunya, atas bantuan dan dukungan semua pihak. Dengan demikian, semoga cita-cita untuk meningkatkan IPM NTB dapat diwujudkan. Semua itu untuk kemaslahatan masyarakat,” harap Syafi’i.(tim)