Kegiatan Gubernur

DI UIN, TGB BERIKAN KULIAH UMUM & TANDATANGANI MOU

Bidang IKP Diskominfo NTB | Senin, 11 September 2017 - 07:23:36 WIB | dibaca: 55 pembaca

Tiba di  Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat pagi (8/9-2017) sekitar pukul 09.00 WIB  Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi,  disambut Rektor Universitas Islam, Prof. Dr. Andul Haris bersama ratusan mahasiswa dan Civitas Akademika lembaga pendidikan Agama islam terbesar di Kota Apel tersebut. Di Kampus dengan jumlah mahasiswa sebanyak 15.000 orang tersebut, Tuan Guru Bajang  sapaan Gubernur NTB dua periode tersebut, diundang secara khusus untuk memberikan Kuliah Umum  Wawasan Keislaman dan Kebangsaan, dengan tema ''Meneguhkan Nilai-nilai Islam Wasathi dalam Masyarakat Multikultural''.Rektor UIN menyampaikan rasa syukurnya karena Gubernur TGB bisa hadir langsung menyampaikan kuliah umum kepada para Mahasiswa. Baginya TGB  adalah Umara sekaligus juga ulama atau Al Hafidz, sehingga kehadirannya akan mampu memberikan pemahaman dan menguraikan Al-Qur’an kepada para mahasiswa  untuk diterapkan di lingkungan kampus UIN sendiri. Maupun  dalam rangka mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang berintegritas  dan berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an, tutur Rektor.

Kuliah umum  berlangsung di Gedung Ir. Soekarno, UIN Malang,  dan dilanjutkan penantanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman Kerjasama dibidang pengembangan Pendidikan antara Pemprov NTB dengan Rektor UIN Malang.  Di hadapan 300 mahasiswa yang tergabung organisasi HIMMAH UIN Malang, Gubernur menjelaskan istilah islam wasathi. Istilah itu kata TGB, sesungguhnya mengadung dua substansi utama, yakni keadilan dan kebaikan. Kebaikan dan keadilan, jelas TGB lebih lanjut merupakan ruh utama dalam ajaran Islam. Sedangkan ummatan wasathi menurut TGB mencerminkan hal yang paling pokok dalam Islam. Yakni selalu memposisikan diri di tengah secara imajiner. Namun, ummatan wasathi tidak pernah berada di tengah apabila di sebelah kiri dan kanannya terdapat kebaikan dan kezaliman.

''Marilah makna ummatan Wasathi ini kita bingkai dalam menyebarkan kebenaran dan kebaikan,'' ajak Tuan Guru Bajang.  Ummatan wasathi, jelas TGB merupakan hal yang pokok untuk merumuskan dan mengatur tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terlebih, tatanan sosial tersebut menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara, tuturnya. Umat Islam, menurutnya harus senantiasa berada dalam posisi moderat, yaitu berada dalam titik keseimbangan antara nilai kemanusiaan dan nilai kebudayaan. Dan diharapkannya untuk terus berusaha mencari jalan kesamaan atau titik temu. Pada saat yang sama, di tengah pertentangan tersebut, Islam datang untuk memberikan solusi terbaik bagi kelangsungan hidup masyarakat banyak, tegas TGB. 

Karena itu, Gubernur berharap mahasiswa dapat menempatkan diri sesuai dengan posisi yang dibutuhkan dengan berprinsip pada kebenaran. Dengan pemahaman yang dibekali oleh kampus UIN kata Gubernur Alumni Kairo Mesir tersebut, mahasiswa akan mampu menghadirkan konsep-konsep Islam yang benar. Utamanya dalam hal bermuamalah dengan orang lain. ''Kalau kelembutan dan kelapangan hati yang terdapat dalam konsep wasathi bersemai dalam diri mahasiswa, maka tidak  akaa ada lagi ruang bagi nafsu untuk menguasai,'' ungkap Gubernur Al Hafidz tersebut.  

Sebelumnya, Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Andul Haris menyampaikan saat ini UIN Malang memiliki lebih dari 15.000 mahasiswa. Menurutnya, pada tahun 2017 ini peminat UIN mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 76.000 mahasiswa. Tidak hanya dalam negeri, mahasiswa dari negara luar seperti Amerika, Rusia menuntut ilmu di kampus tersebut. Sehingga saat ini, tercatat sekitar 423 luar negeri yang menempuh pendidikan bersama putra-putri terbaik dalam negeri.

Usai melakukan Kuliah Umum di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Gubernur melakukan sholat jum’at di Masjid Jami’ Kota Malang, sekaligus memberikan tausiah. Dalam tausiah singkatnya Gubernur mengajak seluruh umat Islam untuk memaknai hari raya Qurban beberapa waktu lalu dengan makna yang nyata yakni memberikan pengabdian dan karya terbaik di manapun posisi bekerja. 

''Untuk saat ini mari kita maknai semangat berkorban itu dengan peduli kepada saudara-saudara kita di Rohingya, selama mereka dalam keadaan terzolimi, maka kita tetap berkewajiban untuk kontribusi sekecil apapun, walaupun posisi mereka jauh, namun rasa saling membantu itu merupakan panggilan keimanan umat islam terhadap saudaranya walaupun tidak saling kenal'', pungkasnya. 

Biro Humas dan Protokol NTB