Program Unggulan

BSS, Gudang Uang di Tanah Becek

Administrator | Rabu, 10 Desember 2014 - 10:25:51 WIB | dibaca: 3098 pembaca

Petani dan peternak mulai menikmati manfaat program NTB Bumi Sejuta Sapi atau BSS yang diluncurkan Pemprov NTB 2009 silam. Denyut ribuan kelompok ternak seantero NTB menjadi tulang punggung program ini. Kini beternak tak cuma sambilan. Beternak sapi, berarti memelihara asa, anak bersekolah tinggi, ekonomi keluarga bersemi. Peternak ingin program ini terus berlanjut. Bagi mereka, BSS kini ibarat bank tempat menyimpan uang di tanah becek.

DI usia senja, Amaq Atun (69), masih bugar. Di kampungnya, Dusun Sembung Barat, Desa Sembung, Kecamatan Narmada, ia adalah contoh pekerja keras. Ia membanting tulang di sawah sedari pagi, selayaknya petani lain, lalu masih harus menyabit rumput untuk empat hewan sapi piaraannya. Ia memiliki empat ekor sapi : dua induk dengan dua anak.

Penghujung pekan lalu, senyum Amaq Atun mengembang. Pertanda hatinya tengah bahagia. ‘’Anak tiang, wah skripsi nani... (anak saya lagi skripsi sekarang),’’ katanya, di pos jaga kandang ternak di Dusun Sembung Barat.

Bunyamin Azimah yang Amaq Atun maksud. Anak perempuannya itu kini tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai prasyarat menggondol gelar sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram. Di institut itu, Azimah dididik menjadi calon guru.

Dari tiga buah hatinya, kata Amaq Atun, hanya bungsu Azimah yang bisa ia sekolahkan ke perguruan tinggi. Dua anaknya yang lain, hanya sekolah sampai pendidikan menengah, dan bahkan harus menikah lebih cepat dari seharusnya. Mengingat itu, ia kadang merintih dalam diam.

Beternak sapi-lah yang menjadi penjawab mimpi Amaq Atun. Tahun 2005, Amaq Atun ikut Program Bantuan Langsung Pinjaman Masyarakat (BLPM), dan memperoleh satu induk ternak sapi. Ia harus memelihara sapi itu selama empat tahun, dan dalam kurun waktu itu mengembalikan satu induk sapi.

Amaq Atun lalu bergabung bersama 24 petani peternak lain dalam Kelompok Ternak Patuh Angen di desanya. Saat itu kelompok ini memperoleh 83 ekor sapi. Ternak itu lalu dipelihara anggota. Sambil memelihara ternak, mereka juga masih tetap bisa bertani, atau menjalankan aktivitas lain seperti menjadi buruh panggul di pasar Mandalika, Sweta, Cakranegara, Kota Mataram.

Aktivitas kelompok tani ternak ini mulai menggeliat seiring sentuhan program NTB BSS pada 2009. Dalam kurun waktu tujuh tahun, ternak sapi yang dikelola kelompok ini berlipat menjadi 185 ekor. Kini dengan anggota 85 orang, satu peternak memelihara dua hingga empat ekor sapi. Sebagian besar sudah menjadi hak milik, setelah kewajiban mengembalikan satu induk dalam empat tahun tertunaikan.

Ali Syahid, Ketua Kelompok Tani Ternak Patuh Angen mengatakan, ia dan warga Dusun Sembung Barat tengah menikmati manfaat keberhasilan Program NTB BSS. Program itu kata Ali telah membalik pemikiran petani, kalau beternak sapi juga bisa menjadi ladang mengerakkan ekonomi keluarga.

Sebelum tersentuh program NTB BSS, petani hanya memelihara sapi sebagai pekerjaan sambilan. Mereka mengurus ternak saat senggang. Kadang peternak bahkan tak tahu, kapan sapi mereka harus dikawinkan dengan pejantan lantaran mereka acap kali tak mengenal pertandanya.

‘’Sekarang mereka tahu betul bahkan menunggu-nunggu saat sapi mereka siap dikawinkan dengan pejantan. Sebab mereka tahu, kalau terlewat, butuh waktu 21 hari lagi bagi ternaknya untuk masa birahi lagi. Pengetahuan seperti ini diperoleh petani dari program NTB BSS,’’ kata Ali.

Peternak pula yang akhirnya mendulang manfaat. Ternak sapi induk milik kelompok itu kini mulai rutin dapat melahirkan satu anak satu tahun. Hal yang memang dihajatkan program NTB BSS. Jika sehat, satu induk bisa beranak hingga 12 kali.

‘’Tiap bayah semester, tiang jual anak nike kadu bayah lek IAIN… (Tiap membayar semester, saya jual satu anak sapi untuk melunasi pembiayaan di IAIN,’’kata Amaq Atun.

Saat ini kelompok Patuh Agen tidak hanya memelihara sapi bibit. Tapi juga menggemukkan ternak sapi. Hasilnya menggiurkan. Dalam enam bulan, seekor sapi yang tadinya dibeli Rp10 juta bisa dijual seharga Rp16 juta. Peternak mendapat bagian Rp4 juta (70), dan kelompok ternak mendapat jatah Rp2 juta (30).

Itu sebabnya, kata Ali, kini ia mulai kewalahan. Sebab banyak warga di Desa Sembung Barat ingin bergabung dalam kelompok ternak. Mereka ingin bernasib seperti saudara mereka yang lain, memperbaiki taraf hidup dengan beternak sapi.

‘’Kelompok saat ini tengah mencari lahan untuk perluasan kandang. Peternak siap menyewa lahan itu pada pemiliknya,’’ kata Ali. Satu petak kandang ukuran 3 x 3,5 meter persegi, disewa dengan 50 kg gabah kering giling. Sewa dibayarkan peternak tiap tahun, usai panen.

Gairah serupa juga dirasakan kelompok penggemukan sapi Pade Girang di Desa Mekar Sari, Kecamatan Narmada. Kelompok yang dipimpin H Jumahir itu kini juga terus mendulang suka cita.

Menurut Jumahir, kelompok ternak yang mulai dirintis seiring program NTB BSS pada 2009, kini sudah memiliki 56 ternak sapi dari semula 30 ekor. Satu peternak bertanggungjawab pada penggemukan empat ekor sapi. Dalam waktu empat bulan, sapi lalu dijual.

‘’Dari menggemukkan empat ternak itu, saat penjualan satu peternak paling sedikit mengantongi Rp8 juta,’’ kata Jumahir.

Nilai uang dalam bilangan jutaan menjadi berkah bagi para peternak. Uang itu selain dipakai membiayai kehidupan sehari-hari, dipakai untuk membiayai sekolah anak dan memperbaiki rumah. Banyak rumah dikampung itu kini dibangun permanen.

Sebagian peternak bahkan kini mampu membeli sepeda motor, hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran mereka sebelumnya. ‘’Bahkan kini menyabit rumput pun pakai motor,’’ kata Darmiah, anggota kelompok ternak Pade Girang.

Beberapa peternak lain memutar kembali uang itu untuk membeli ternak kembali. ‘’Saya belikan ternak sapi lagi buat di pelihara. Kalau ada sisa, saya perbaiki rumah. Kalau untuk biayai anak sekolah, sudah pasti,’’ kata Amaq Patah, peternak dari Sembung Barat anggota Kelompok Ternak Patuh Angen. Ia kini memiliki tujuh ekor sapi.

Mahyun (46), petani dari Kelompok Putri Bekelem di Desa Sepakek, Kecamatan Peringgarata, Lombok Tengah, akhirnya punya istilah sendiri soal keberhasilan beternak sapi ini. ‘’Kalau maysrakat di kota menyimpan uang di bank, kami menyimpan uang di ternak sapi. Jadi bank kami ada di tanah becek, ada di kandang,’’ kata Mahyun terkekeh-kekeh.

Kendati bergelimang kegembiraan, bukan berarti beternak sapi ini tidak ada masalah. Kian banyaknya jumlah sapi menyebabkan limbah ternak jadi masalah tersendiri. Di Kelompok Puteri Bekelem misalnya, tiap hari kini dihasilkan kotoran ternak tak kurang satu ton. Kotoran itu berasal dari 120 ternak sapi yang dikelola kelompok dengan basis Sarjana Membangun Desa (SMD) ini.

Menurut Sahrul Zubaidi, SMD Putri Bekelem, kotoran ternak itu menyulitkan petani. Sempat ada yang memesan pupuk kompos pada mereka, namun mereka tak memiliki keterampilan memadai untuk mengolah dalam skala besar, selain keterbatasan lahan. ‘’Kami juga berproses mengolahnya menjadi bio gas, tapi belum juga maksimal,’’ katanya.

Hal serupa juga dialami kelompok Pade Girang dan Patuh Angen. Sejauh ini, hanya petani di desa setempat yang memanfaatkan kotoran ternak itu sebagai kompos, tapi belum sebanding dengan jumlah kotoran yang dihasilkan tiap hari.

Selain kotoran ternak, H Jumahir juga berharap, ada semacam skim kredit perbankkan lunak yang menguntungkan dan bisa diakses petani. Mereka berharap, ternak yang mereka kelola bisa menjadi jaminan di perbankkan.

Momok lain, meski saat ini berkurang drastis, adalah pencurian ternak. Umumnya hal ini kini disiasati dengan menggelar ronda malam bergiliran. Bahkan di kelompok Patuh Angen, dibuat aturan, jika ada ternak yang hilang, maka 75 harga ternak yang hilang diganti mereka yang bertugas jaga. Sisanya ditalangi kelompok ternak.

Toh, dengan masalah-masalah itu, bukan berarti para peternak berkeluh kesah. Mereka bahkan dari saat ini ingin kepastian, program NTB BSS bisa terus berlanjut. 

‘’Manfaatnya terbukti sangat terasa. Program ini harus terus berlanjut. Mohon agar dilanjutkan terus, dan yang memimpinnya juga harus terus melanjutkan memimpin daerah ini. Harapan kita agar sapi ini ditambah. Kita ingin tetap dimonitor dan dibimbing pemerintah,’’ kata Ali Syahid.

Program NTB BSS menargetkan populasi sapi pada 2013 mencapai satu juta ekor. Peghujung 2012 ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB menargetkan populasi sapi menembus angka 897 ribu ekor.

Program NTB BSS menjadi program unggulan Pemprov NTB, mengingat nilai stategis sektor ini. Selain menopang swasembada daging nasional pada 2014, nilai finansial sektor ini diprediksi mencapai Rp5,5 triliun dengan Rp1,1 triliun diantaranya keuntungan bagi peternak. Program ini diperkirakan mampu menyedot tenaga kerja hingga 344 ribu orang. [tim]